Pemerintah Kota Terus Gaungkan Program LP2B

SUKABUMI– Pemerintah Kota (Pemkot) Sukabumi, menggencarkan program Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Hal itu, sebagai upaya menekan alih fungsi lahan pertanian produktif.

Asisten Daerah Perekonomian dan Pembangunan Kota Sukabumi Nuraeni Komarudin mengatakan, luas milik pemerintah 28,3 hektare dan masyarakat 17,78 hektare. Maka dari itu, Pemkot Sukabumi terus berupaya meningkatkan luas LP2B.

Bacaan Lainnya

Lahan Pertanian di Kota Sukabumi Menyempit, Berkurang 26 HektarMusrenbang Jabar 2024, Kota Sukabumi Raih Dua Penghargaan99 Persen ASN Pemerintah Kota Sukabumi Masuk Kerja, Tidak Terapkan WFH

“Kami berupaya lahan pertanian produktif yang tersisa tidak beralih fungsi dan mengajak kepada masyarakat yang memiliki lahan untuk mengikuti program LP2B,” kata Nuraeni kepada wartawan, belum lama ini.

Lanjut, Nuraeni, untuk menghentikan alih fungsi lahan persawahan dan meningkatkan usaha pertanian, Pemkot Sukabumi mengupayakan peningkatan luas LP2B, sekaligus memberikan imbauan kepada pemilik lahan untuk tidak tergiur mengalih fungsikan lahannya.

Terlebih, luas lahan pertanian saat ini berkurang sekitar 26 hektare dikarenakan karena meningkatnya alih fungsi lahan pertanian seperti menjadi permukiman atau fasilitas lainnya. “Pada 2023 luas lahan pertanian di Kota Sukabumi sekitar 1.321 hektare, tetapi pada tahun ini menjadi 1.295 hektare atau berkurang 26 hektare,” ujarnya.

Menurut Nuraeni, dengan semakin berkurangnya luas lahan pertanian ini tentu mempengaruhi terhadap persediaan pangan khususnya beras sehingga harus bergantung pasokan dari daerah lain.

“Adapun rata-rata konsumsi beras warga Kota Sukabumi setiap tahunnya mencapai 37 ribu ton, tetapi beras yang dihasilkan dari lahan yang tersisa hanya bisa memenuhi kebutuhan konsumsi sekitar 30 persen atau produksi beras hanya 12 ribu ton per tahun,” paparnya.

Kendati hanya bisa memenuhi sekitar 30 persen dari angka kebutuhan konsumsi masyarakat, tetapi daerah berjuluk Kota Mochi ini tidak pernah mengalami kelangkaan beras, walaupun pasokan ditopang dari daerah lain seperti Kabupaten Sukabumi.

“Namun demikian, semakin berkurangnya lahan pertanian produktif tetap menjadi perhatian utama pihaknya karena berpengaruh terhadap produksi beras,” pungkasnya. (Bam)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *