1 dari 12 Tersangka Bullying SMA Internasional Statusnya Alumni

Jakarta

Polisi telah menetapkan 12 tersangka di kasus bullying siswa SMA Internasional, di mana 8 orang di antaranya merupakan anak berhadapan dengan hukum (ABH). Empat orang tersangka di antaranya melakukan kekerasan, salah satunya adalah alumni.

“Perannya itu intinya melakukan kekerasan,” ujar jar Kasat Reskrim Polres Tangerang Selatan AKP Alvino Cahyadi dalam konferensi pers di kantornya, Jumat (1/3/2024).

Alvino menjelaskan bahwa para pelaku melakukan kekerasan secara bergantian kepada korban. Adapun tindakan kekerasan itu dilakukan dengan dalih ‘tradisi’ tidak tertulis untuk bergabung dengan kelompok atau komunitas Geng Tai.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Para pelaku secara bergantian melakukan kekerasan terhadap Anak Korban laki-laku 17 tahun dengan dalih ‘tradisi’ tidak tertulis sebagai tahapan untuk bergabung dalam kelompok atau komunitas,” katanya.

Alvino menjelaskan 3 orang tersangka diantaranya masih bersekolah di SMA tersebut. Sedangkan 1 tersangka merupakan alumni.

“Yang empat, satu sudah tidak sekolah di SMA swasta. Tiga masih,” kata dia.

‘Tradisi’ Masuk Geng

Polisi mengungkap para tersangka melakukan aksi bullying terhadap siswa SMA Internasional. Para tersangka tidak terima korban mengadukan aksi pembullyan yang dianggapnya sebagai ‘tradisi’ masuk ke kelompok Geng Tai.

Kasat Reskrim Polres Tangsel AKP Alvino Cahyadi mengungkapkan ada dua peristiwa pidana dalam kasus ini. Pertama, pada 2 Februari 2024, sejumlah pelaku melakukan kegiata semacam ‘tradisi’.

“Dari hasil penyelidikan kami, motif sementara yang bisa disimpulkan ada dua. Pada tanggal 2 dan 13 januari 2024. Pada tanggal 2 feb utk para anak-anak pelaku menjalankan semacam tradisi yang tidak tertulis sebagai tahapan untuk bergabung dalam suatu kelompok,” kata Alvino kepada wartawan di kantornya, Jumat (1/3//2024).

Pelaku Tak Terima Korban Mengadu

Kemudian, pembullyan terjadi kembali pada 13 Februari 2024. Kali ini, para pelaku melakukan kekerasan lantaran tak terima korban mengadu kepada kakaknya.

“Kemudian 13 Februari, para pelaku melakukan kekerasan diduga karena mendapatkan informasi bahwa korban diduga menceritakan kegiatan ‘tradisi’ yang terjadi pada tanggal 2 kepada saudara anak korban,” tuturnya.

Atas kejadian itu, korban mengalami sejumlah luka di bagian leher dan tangannya.

(ial/mea) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *