Ratusan KK di Desa Mekarsari Sukabumi Tinggal di Gubuk Reot

SUKABUMI – Program bantuan rumah tidak layak huni (Rutilahu) yang diluncurkan pemerintah, nampaknya belum menyentuh kepda masyarakat di pedesaan. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya warga yang tidak mampu yang kini masih tinggal di Rutilahu.

Seperti halnya di wilayah Desa Mekarsari, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi. Berdasarkan data yang tercatat di pemerintah desa tersebut, hingga pada Minggu (25/02) ini, terdapat 124 rumah yang kondisinya masuk pada kategori rumah tidak layak huni.

Bacaan Lainnya

Kronologis Tiga Anak di Nyalindung Sukabumi Ditemukan Tewas di KubanganTangani Stunting, Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi Bagikan Puluhan Paket Olahan Makanan dan Tebar Ribuan Ikan Nilem di NyalindungGempa 5,2 SR Kabupaten Bandung Goyang Sukabumi, Rumah Warga Nyalindung Ambruk

Hal demikian, disampaikan langsung Kepala Desa Mekarsari, Muhammad Ilham Maulana Kodratullah kepada Radar Sukabumi. Bahwa menurutnyq, ratusan rumah yang kondisinya memprihatinkan tersebut, telah tersebar di semua kedusunan yang ada di Desa Mekarsari.

“Jumlah total Rutilahu di Desa Mekarsari ini, kita catat itu ada 124 rumah. Nah, itu yang kondisinya sudah tidak layak huni,” kata Muhammad Ilham Maulana Kodratullah kepada Radar Sukabumi pada Minggu (25/02).

“Di kita itu, ada empat kedusunan. Yakni, kedusunan 1 hingga kedusunan 4. Dan itu hampir di semua kedusunan ada yah. Jadi, rata-rata di setiap RT itu pasti ada 1 sampai 2 rumah yang tidak layak,” ujarnya.

Dari semua kedusunan yang ada di wilayah desa tersebut, paling banyak ditemukan rumah tidak layak huni ini, ada di wilayah Kedusunan 4. Ini terjadi, karena di wilayah Kedusuanan 4, daeranya merupakan padat penduduk dibanding dengan kedusunan lainnya. “Mayoritas rumah tidak layak huni di desa kita itu, jika dilihat ke lapangan, bangunan rumahnya rumah zaman dulu. Kalau untuk ukurannya, sekitar 5×6 meter atau 6×6 meter. Rata-rata pemilik rutilahu di desa kami ini, berpenghasilan minim karena berprofesi sebagai kuli dan buruh tani,” paparnya.

Berdasarkan peninjuan di lapangan, mayoritas ratusan rumah tidak layak huni di Desa Mekarsari, Kecamatan Nyalindung ini, bangunanya terbuat dari anyaman bambu. Selain banyak genting yang bocor, dinding serta atap dan kayu penyangganya, lapuk dan terkelupas akibat dimakan usia. Sehingga ketika hujan deras dan angin kencang, air dapat terjun secara bebas memasuki rumah tersebut.

“Kalau yang kita lihat terakhir itu, sebetulnya itu sudah sangat amat mengkhawatirkan, posisinya gentengnya bocor terus dinding-dinding bambunya sudah banyak yang terbuka, dan bawahnya ini sudah keropos. Bahkan, kemarin saja sudah ada satu rumah rutilahu yang sudah roboh atau ambruk di Kampung Panaruban,” paparnya.

Pemerintah Desa Mekarsari, sudah berulang kali mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk program Rutilahu itu. Namun hingga saat ini, bantuan Rutilahu tersebut belum juga ada tanggapan.

Dalam setahunnya, Desa Mekarsari hanya mendapatkan bantuan Rutilahu dari pemerintah daerah Kabupaten Sukabumi melalui Baznas Kabupaten Sukabumi, hanya 1 unit rutilahu. Sementara jumlah yang membutuhkan bantuan Rutilahu sangat banyak. Bahkan, sampai ratusan rumah.

“Harapannya ke depan, mudah-mudahan dari dinas terkait ataupun pemerintah provinsi dan pusat, bisa memperhatikan karena memang kalau dianggarkan dari dana desa, kita belum mampu soal itu,” paparnya.

“Kita kemarin itu belum menganggarkan, karena saya sendiri baru menjabat sebagai kepala desa-nya, kita coba tahun ini kita masuk ke perencanaan, mudah-mudahan ada dua rumah yang tahun ini bisa kita bangun,” bebernya.

Sementara itu, salah seorang warga Kampung Jati, RT 04/RW 05, Desa Mekarsari, Kecamatan Nyalindung, Yeti Nur Cahya (47) mengatakan, ia bersama keluarganya dengan jumlah empat jiwa sudah bertahun-tahun tinggal di rumah rutilahu yang berukuran sekitar 5 x 7meter.

“Saat hujan lebat air banyak masuk ke rumah. Selain gentingnya bocor, juga dindingnya banyak yang bolong, sehingga angin pun masuk tanpa pembatas. Kalau gak percaya itu, lihat saja sendiri,” pungkasnya. (Den)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *