Musim Hujan, Dinkes DKI Imbau Warga Waspada Diare hingga DBD

Jakarta

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta Ani Ruspitawati mengimbau warga Jakarta mewaspadai berbagai penyakit dan bahaya yang rentan terjadi saat banjir. Pihaknya menyebut diare hingga demam berdarah merupakan penyakit yang sering muncul saat banjir.

“Data penyakit yang sering muncul saat musim hujan/banjir adalah diare, demam typhoid, leptospira, dermatitis, tetanus, gigitan ular, hingga demam berdarah dengue (DBD),” kata Ani Ruspitawati saat dimintai konfirmasi, Jumat (12/1/2024).

“Sampai 8 Januari 2024, untuk incidence ratio (angka kejadian) DBD 34,71 per 100 ribu penduduk,” sambungnya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ani menjelaskan pihaknya telah melakukan mitigasi dalam menghadapi munculnya penyakit lain akibat banjir saat musim hujan.

“Beberapa langkah mitigasi dampak kesehatan pada kejadian banjir yang disiapkan oleh Dinkes DKI antara lain upaya penanggulangan mulai dari pra-krisis, tanggap darurat, dan pascakrisis,” tuturnya.

Pada tahap pra-krisis, Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyiapkan peningkatan sumber daya kesehatan, pengelolaan risiko krisis, dan pengurangan risiko. Lalu, tahapan kedua yakni tanggap darurat. Pada tahap ini Dinas Kesehatan DKI Jakarta memaksimalkan respons masyarakat terkait seluruh kondisi atau kedaruratan secara cepat dan tepat.

“Respons cepat dan tepat ini guna menyelamatkan, mencegah kecacatan lebih lanjut dan memastikan program kesehatan berjalan sesuai standar minimal pelayanan,” ucapnya.

Kemudian, tahapan terakhir yakni pascakrisis yang ditujukan untuk mengembalikan kondisi sistem kesehatan masyarakat seperti pada kondisi prakrisis.

Dengan begitu, Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengimbau, seluruh masyarakat Jakarta selalu menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga imunitas tubuh, menjaga kebersihan lingkungan dengan kerja bakti di wilayah masing-masing, melakukan pembersihan pascabanjir, dan ditambah isolasi.

Lalu menerapkan 5M Plus, yakni menguras atau membersihkan tempat yang sering dijadikan penampungan air seperti bak mandi, ember air, dan lain-lain, lalu menutup rapat tempat-tempat penampungan air, ketiga mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menimbulkan perkembangbiakan nyamuk yang menularkan demam berdarah.

Keempat, mengganti air di pot tanaman setiap hari, dan kelima menimbun barang-barang bekas atau plastik sampah yang digenangi air hujan, seperti ban bekas, dan Plusnya yaitu melakukan pencegahan DBD saat musim hujan.

“Menguatkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) bersama kader kesehatan, dan hubungi petugas kesehatan apabila ada keluhan kesehatan yang muncul,” pungkas Ani.

(bel/isa) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *